Jumat, 12 Agustus 2011

selalu ada perpisahan

dan itu menjadi biasa sekarang, hal hal yang terlampau sering aku lewati menjadikan rasa ini mati. dulu saat masih sekolah, hal yang paling menyedihkan di dunia bagi si Endang remaja adalah perpisahan jarak dengan orang yang disayang, melebihi kepedihan menerima kematian.

bukan tanpa alasan dulu aku beropini seperti itu. de Endang kecil yang malang harus menangis bukan kepalang karena dipisahkan nasib dengan Mama nya tersayang. tiap mendengar adzan Maghrib berlari ke pintu mengharap kedatang sang Ibu tapi kau tahu kawan, anak sekecil itu kudu menelan kenyataan bahwa ia.. (demi Tuhan itu sakit!)

itu masuk peringkat pertama hal paling pedih dalam hidupku melebihi kesedihan ditinggal mati sang Ayah. kematian adalah takdir yang tak mampu diubah sedangkan perpisahan jarak hanya nasib yang masih dapat ditempuh. tidak untuk anak kecil kelas satu esde yang menganggap jarak tempuh dua jam dari Mama nya sejauh menempuh langit tingkat tujuh.

aku padam. aku lebih tidak peduli pada hal seperti itu. ada dua kemungkinan. pertama karena aku sudah berteman kepedihan sejak masa harusnya aku penuh belaian kasih dan sayang. kedua karena aku bosan. aku terlalu sering berpisah sekarang. dengan famili atau pun kawan sendiri. jujur rasa sedih selalu datang secara manusiawi tapi itu adalah bagaimana aku menenangkan hati. aku tak punya tujuan hidup selain membahagiakan Mama, Rezza dan Desy. aku bahkan tak ingin menjadi apa. tak berharap menikah dengan siapa. tak terbayang memiliki anak berapa.

bahkan aku tak paham kapan aku harus bahagia..

3 komentar:

  1. speechless....Kang

    ya semoga semua ada hikmahnya aja...kan kita yang nentukan hidup kita, life must go on..
    sakit emang jauh dr org yang kita sayang,.but its my life choice,...

    semangat aja deh,..

    BalasHapus
  2. Kamu baik2 kan? Jaga kesehatan

    BalasHapus

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.